Tampilkan postingan dengan label Doa dan Dzikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa dan Dzikir. Tampilkan semua postingan

17/12/11

Hubungan Hati dan Lisan ketika Berdzikir

Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah – semoga Allah merahmatinya – berkata :

“Diantara orang-orang yang berdzikir, ia memulai dzikir dengan lisan walaupun ia dalam keadaan lalai. Kemudian, ia terus dalam keadaannya itu sehingga hatinya hadir (berdzikir), maka (hatinya) ikut bergabung berdzikir (dengan lisannya).

Dan diantara mereka ada yang tidak terlihat seperti itu dan tidak memulainya dengan kelalaian, bahkan ia (dalam kondisi) tenang sehingga ia menghadirkan hatinya lalu ia masuk berdzikir dengan hatinya. Kemudian, jika telah kuat (berdzikir dengan hati) dia ikutkan (berdzikir) dengan lisannya, maka telah bergabung seluruhnya(hati dan lisan).

(Jenis) yang pertama: dzikir itu berpindah dari lisan menuju hatinya.

Yang kedua: (dzikir itu) berpindah dari hatinya menuju lisannya, tanpa hatinya kosong dari berdzikir. Bahkan, ia memulai dengan menenangkan diri  sampai ia merasakan hadirnya pengucapan (dzikir) di dalamnya.

Lalu, ketika ia telah merasakan itu, ia mengucapkan dengan hatinya dilanjutkan pengucapan (dzikir) dengan hati berpindah kepada pengucapan lisan dan seterusnya  sampai ia tenggelam dalam keadaan itu sehingga ia mendapati segala sesuatu dari (ucapan hati dan lisan)nya dalam keadaan mengingat (apa yang ia ucapkan).

Dan dzikir yang terbaik dan yang paling bermanfaat:

- (Dzikir) yang bersatu antara hati dan lisan di dalamnya.

- Dan (dzikir) itu termasuk dari dzikir-dzikir nabawy (yang shahih datang dari lisan Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam, pen).

- dan ia (ketika berdzikir) menyaksikan makna-makna dan tujuan-tujuan(dzikir)nya.”

(Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim, hal. 233)






11/12/11

Mengapa Doa itu Seluruhnya Ibadah?

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy – semoga Allah merahmatinya – berkata :

"Sabda Nabi – shalallahu ‘alaihi wasallam : “Doa itu otak ibadah” atau “Doa itu seluruhnya ibadah”, tidak lain yang demikian itu dikarenakan beberapa hal, diantaranya :

-          Bahwa doa di dalamnya terdapat sikap merendah kepada Allah, menampakkan kelemahan dan kebutuhan (hamba) kepada Allah.

-          Bahwa ibadah setiap kali hati lebih khusyu’ dan pikiran hadir padanya, maka ia lebih utama dan lebih sempurna. Dan doa merupakan ibadah yang paling dekat untuk mendapat tujuan  ini karena hajat  seorang hamba membawanya kepada kekhusyukan dan kehadiran hati.

-          Bahwa doa mengharuskan untuk tawakkal dan isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah. Sesungguhnya tawakkal itu adalah penyandaran hati kepada Allah dan percaya kepada-Nya untuk meraih hal-hal yang dicintai dan berlindung dari hal-hal yang dibenci.

Dan doa akan memperkuatnya(tawakkal), bahkan mengungkapkan dan memperjelas (tawakkal)dengannya. Karena, seorang yang berdoa mengetahui kebutuhannya yang sempurna kepada Allah. (dan ia mengetahui) bahwa kebutuhannya itu di tangan Allah dan ia memintanya kepada Rabbnya dengan pengharapan dan percaya kepada-Nya. Dan inilah nyawa dari ibadah.

-          Bahwa seorang yang berdoa ketika memohon kepada Allah untuk suatu kemasalahatan dan yang bermanfaat baginya serta meminta kebutuhan-kebutuhannya kepada Allah; mungkin seseorang menduga bahwa itu adalah tujuan(dari doa) dan jika telah didapat apa yang ia berdoa kepadanya, maka ia telah meraih tujuan (doa). Dan seandainya belum berhasil maka usahanya telah sia-sia. Ini adalah dugaan yang keliru.

Maka, Rasulullah – shalallahu ‘alaihi wasallam – mengabarkan bahwa ia(doa) itu adalah ibadah, baik yang diminta hamba itu dikabulkan atau tidak, sesungguhnya ia telah melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan berdoa kepada-Nya sebagaimana jika ia shalat atau membaca (Al-Qur’an) atau berdzikir kepada Allah.

Jika ia mendapatkan bersama dengan ibadah ini – yang ia (ibadah) adalah tujuan utama (berdoa) – apa yang ia inginkan, jikapun tidak maka ia telah memperoleh dan mendapatkan ibadah kepada Rabb-Nya.

Termasuk dari nikmat Allah atas seorang hamba untuk Dia memerintahkannya berdoa, memenuhi hajat dan kebutuhan mendesak dengan memohon kepada Allah untuk ia mendapatkan ibadah yang agung ini.

Sehingga, sebagian salaf berkata : “ Sesungguhnya jika aku memiliki suatu hajat kepada Allah lalu aku berdoa kepadanya, kemudian ia bukakan kepadaku kelezatan bermunajat kepada-Nya, aku tidak berangan-angan bersamanya bahwa kebutuhanku tidak dipenuhi, karena aku takut jiwaku berpaling dari munajat dan ibadah (doa) ini (kepada angan-angan mendapatkan kebutuhanku).”

Dan sebagian yang lain berkata: “Sungguh benar-benar engkau diberkahi dalam suatu kebutuhan yang engkau telah memperbanyak dari mengetuk pintu Sayyid(Tuhan)mu.”

(Majmu’ul Fawaid wa Iqtinadhul Awaabid, hal 45 – 46)

21/11/11

Doa dan Adab Ketika Angin Berhembus Kencang

عَنْ أَنَسٍ t: كَانَ  النَّبِيُّ  eإِذَا هَاجَتْ رِيحٌ شَدِيدَةٌ قَالَ : 
 ))اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ ((

Dari Anas bin Malik – semoga Allah meridhainya - : “adalah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam ketika angin berhembus kencang mengucapkan doa :
(( Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu dari kebaikan yang ia (angin) itu diutus dengannya,dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang ia diutus dengannya.))

H.R. al-Bukhori dalam kitabnya Adabul Mufrod.

Hadits ini dishahihkan oleh as-Syaik Al-Albany dalam ash-Shahihah no. 2757 dan as-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam ash-Shahihul Musnad no. 72 dari riwayat ath-Thabrani dengan lafazh :

))  اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ ((
Faedah mulia dari hadits ini :

1.       Disunnahkan untuk membaca doa ini ketika berhembus angin kencang.

2.  Angin adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak memiliki kekuatan dan kehendak kecuali apa yang Allah kehendaki dengannya. Angin bergerak dan berhembus kencang, itu semua dengan pengaturan Allah.

3.       Allah Maha Pencipta, menciptakan angin dan mengutus kebaikan atau kejelekan dengannya.

4.       Anjuran untuk memohon kebaikan kepada Allah dan berlindung kepada-Nya di waktu yang dikhawatirkan akan terjadi kejelekan di dalamnya.
5.       Kita berlindung kepada Allah ketika angin berhembus kencang sebab Allah telah mengadzab suatu kaum dengan angin kencang.  

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : 
فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضاً مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٢٤﴾
 تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ ﴿٢٥﴾

024. Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.

025. yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa. Q.S. Al-Ahqaaf : 24 – 25.
Dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya – ia berkata : Adalah Nabi e di hari yang berangin dan mendung terlihat keresahan di wajahnya dan Beliau e berjalan kesana kemari. Jika hujan telah turun maka Beliaue gembira dengannya dan hilang darinya keresahan itu. Aisyah berkata :  Aku pun bertanya tentangnya, lalu Beliau e bersabda :
إِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ عَذَابًا سُلِّطَ عَلَى أُمَّتِي وَيَقُولُ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ رَحْمَةٌ
(( Sesungguhnya aku khawatir ia menjadi adzab yang ditimpakan atas umatku.))
Dan jika melihat hujan telah turun Beliau e bersabda :
))  رَحْمَةٌ((
Rahmat(-Nya).

H.R. Al-Bukhori dan Muslim, dan lafazh hadits riwayat Muslim
6.       Islam agama yang sempurna mengajarkan adab yang sempurna dalam berbagai keadaan.

7.       Adab-adab seorang muslim ketika angin berhembus kencang:
-          Berdoa, sebagai bentuk ittiba’ (pengikutan) kepada Rasulullah e sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
-          Tidak mencela angin yang bertiup kencang.   Rasulullah e bersabda :
لا تسبوا الريح ، فإذا رأيتم ما تكرهون فقولوا (( اللهم إنا نسألك من خير هذه الريح ، وخير ما فيها ، وخير ما أمرت به ، ونعوذ بك من شر هذه الريح ، وشر ما فيها ، وشر ما أمرت به .))
Janganlah kalian mencela angin! Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci (darinya) maka ucapkanlah :
(( Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dari kebaikan angin ini, kebaikan yang ada padanya, dan kebaikan yang ia diperintahkan dengannya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari kejelekan angin ini, kejelekan yang ada padanya, dan kejelekan yang ia diperintahkan dengannya.))

و الله تعالى أعلم و الحمد لله رب العالمين.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes