07/04/12

Menggunakan Hati untuk Amalan yang Terbaik dan Bermanfaat

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-sa’di – semoga Allah merahmatinya – berkata:
“Suatu keharusan bagi hati untuk melihat, berpikir, memahami, berkeinginan, dan bermaksud. Maka, bersungguh-sungguhlah menjadikan perkara-perkara ini  dalam hal yang paling wajib, utama, dan bermanfaat, agar kamu meraih dua kebahagiaan(dunia dan akhirat).
Kamu mesti benar-benar membuat pikiranmu di dalam ilmu-ilmu yang bermanfaat dan pemikiran-pemikiran yang lurus dan menghadapkan sudut pandangmu kepada sumber hidayah dan rahmat-Nya yang menumbuhkan ilmu dan pengetahuan, yaitu kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.
Demikian pula dalam perkara-perkara kauni, seperti langit, bumi, dan seisinya yang menunjukkan dengan sebaik-baik bukti tentang kepemilikan sifat-sifat yang sempurna bagi-Nya dan keesaan-Nya dalam keagungan, kesombongan, kemuliaan, dan keindahan.
Begitu juga merenungi nikmat-nikmat Allah atasmu dan yang selain kamu agar kamu mempersaksikan darinya sesuatu nikmat yang tidak pernah terlihat mata, terdengar telinga, dan tidak sekalipun terbetik di hati manusia.  Sehingga, kamu mengetahui dan mengakui nikmat-nikmat itu serta menyebutkannya secara global dan terperinci. Dan seharusnya kamu jadikan nikmat itu sebagai alat penolong dalam menaati Sang pemberi nikmat.
Kamu juga harus memikirkan apa-apa yang wajib dan mustahab atasmu serta kewajiban dalam menjauhi larangan-larangan, apakah kamu telah melaksanakannya yaitu menaati perintah dan menjauhi larangan? Dan apa jalan yang mengantarkan sampai tujuan dan mana yang tidak? Dan apakah kamu telah menegakkan apa yang belum kamu laksanakan dan membayar apa yang wajib kamu tunaikan? Agar keinginan(iradah) dan niatmu terikat dengan sesuatu yang Allah cintai darimu, dengan meniatkan ridha Allah dan pahala-Nya. Dan hendaknya keinginan hati ini selalu ada di setiap ibadah, kebiasaan, dan keadaanmu.
Hati-hatilah kamu dari menjadikan pikiran-pikiranmu berputar di sekitar syahwat-syahwat perusak dan keinginan-keinginan yang tidak ada hasil dan manfaat bagimu, di waktu dekat  atau masa yang akan datang. Bahkan, pikiran-pikiran seperti itu adalah hukuman yang disegerakan sebelum datangnya siksa akhirat. Sedangkan kewajiban yang dibebankan kepada setiap mukallaf hanyalah untuk mengenal Allah dan tidak asing dengan sifat-sifat dan hak-hak-Nya. Ia juga menegakkan hak-hak Allah dan makhluk-Nya, dengan berharap kepada Allah untuk menyempurnakan dan menerimanya. Dan ia merasa takut dari kekuranganya sehingga tertolak amalan itu atasnya.
Dan hendaknya ia bertaubat memohon ampunan di setiap waktu dan mengambil sebab-sebab duniawi untuk menegakkan kewajiban-kewajibannya. Ia memaksudkan hal itu untuk menolongnya dalam menaati Allah. Dan bersamaan itu, ia mengharap taufik dari Rabbnya untuk dimudahkan dan mendapat berkah di dalam amalannya.”
(Majmu’ul Fawa’id wa Iqtinaashul Awaabid, As-Sa’di, hal. 36 – 37)

0 comments:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes