12/12/11

Rezeki yang Halal dan Baik

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿١٦٨﴾ إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاء وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿١٦٩﴾

168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

169. Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.Q.S. Al-Baqarah: 168 - 169.

Saudaraku muslim –semoga Allah senantiasa menjagamu-….

Ayat yang mulia ini memberikan faedah dan hikmah yang penting, diantaranya:

1.       Allah memerintahkan kepada seluruh manusia, mukmin ataupun kafir, untuk memakan makanan yang halal dan thayyib ( baik).

Makanan yang halal yaitu:

-           yang boleh bagi mereka untuk mengambilnya, bukan dari hasil mencuri atau yang semisalnya.

-          atau bukan dari muamalah yang diharamkan, seperti hasil dari jual-beli ribawy.

-          Atau bukan dari muamalah dalam bentuk yang diharamkan, seperti hasil penipuan.

-          Atau bukan dari jenis yang diharamkan secara zatnya seperti hewan buas.

Oleh karenanya, keharaman itu ada dua(2):

-          Keharaman secara zatnya.

-          Keharaman yang disebabkan cara memperolehnya yang melanggar hak Allah atau hak manusia.

Makanan yang thayyib/ baik yaitu : bukan berasal dari sesuatu yang khabits/ jelek seperti bangkai, darah, daging babi, dan yang lainnya.

2.       Ayat ini termasuk dari dalil untuk kaedah “Hukum asal  dari segala sesuatu adalah mubah untuk dimakan dan dimanfaatkan kecuali yang dalil-dalil menunjukkan keharamannya.”



3.       Terkandung dalam ayat ini: makan dengan kadar yang cukup untuk menegakkan badan hukumnya wajib dan berdosa meninggalkannya. Sebab, Allah memerintahkan manusia untuk makan demi kebaikan mereka dan jasad mereka. Adapun berapa kadarnya maka itu relatif, yang tidak bisa disamakan antara satu dengan yang lain. Namun, ukurannya adalah cukup untuk menegakkan badannya.


4.       Allah melarang manusia dari mengikuti langkah-langkah syaithan dalam mencari rezeki. Karena, syaithan selalu menyeru kepada perbuatan jahat dan keji yang akan berakibat buruk bagi manusia yang mengikutinya di dunia dan akhirat.

Akibat buruk di dunia diantaranya: dijauhkan dari terkabulnya doa, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ :

{ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ }

وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ }

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ ثُمَّ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

"Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkan kepada para rasul. Allah berfirman:
{ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ }

Hai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Q.S. Al-Mukminuun : 51. 

Dan Allah Ta’ala berfirman:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ }

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu. Q.S. Al-Baqarah: 172.



Dan disebutkan seseorang yang dalam perjalanan panjang, yang kusut dan berdebu, lalu ia menengadahkan tangannya ke langit (berdoa) “Wahai Rabbku, wahai Rabbku” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan diberi makan dengan yang haram maka bagaimana akan dikabulkan (doa orang yang sifatnya seperti) itu. H.R. Muslim



5.       Termasuk dari langkah-langkah syaithan adalah menyeru manusia untuk berkata terhadap Allah tanpa ilmu. Misal : menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya. Allah Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ ﴿١١٦﴾

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. Q.S. An-Nahl: 116.



Dan Allah Ta’ala berfirman : 

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ ﴿١١٦﴾

Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. Q.S. An-Nahl: 116.



6.       Dan ketahuilah wahai saudaraku muslim – semoga Allah selalu melindungimu- bahwa berkata terhadap Allah tanpa ilmu adalah jenis keharaman yang terbesar. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٣﴾

Katakanlah: "Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui". Q.S. Al-A’raaf: 33.



Al-Imam Ibnul Qayyim –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Allah – yang Maha Suci Dia – menyebutkan empat yang diharamkan, dimulai dengan yang paling ringan lalu yang lebih berat, demikian seterusnya sampai mengakhirinya dengan keharaman paling besar dan paling berat yaitu perkataan terhadap-Nya dengan tanpa ilmu.”

(Badai’ut Tafsir, 2/ 208)



7.       Selayaknya bagi seorang mukmin, yang Allah beri taufik dan hidayah, untuk makan dari sesuatu yang halal dan baik. Dan hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ﴿١٧٢﴾

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. Q.S. Al- Baqarah: 172.
 

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah-  menjelaskan makna ayat ini: “Sesungguhnya peribadahan kalian kepada Allah menuntut kalian untuk bersyukur kepada-Nya bahkan ibadah kalian kepada-Nya adalah syukur itu sendiri.

Lalu, jika kalian adalah orang-orang yang selalu mengibadahi-Nya, termasuk dalam jumlah yang mengibadahi-Nya, maka makanlah dari rezeki-Nya (yang baik) dan bersyukurlah atas nikmat-nikmat-Nya.”

و الله تعالى أعلم بالصواب
(Taisirul Karimir Rahman, Badai’ul Fawaid, Nailul Maram min Tafsir Ayaatil Ahkaam) 

0 comments:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes